SKETCHES OF MINE

Kamis, 08 Mei 2014

One Day One Juz

ODOJ adalah singkatan dari One Day One Juz. Dimana kita membaca Al Qur’an ini sehari satu juz. Nah, kalau dihitung-hitung rata-rata per juz adalah 10 lembar. Jadi tiap harinya, kamu harus bisa menghabiskan 10 lembar. Itu artinya, kamu akan bisa mengkhatamkan Al Qur’an dalam 30 hari alias satu bulan. Mungkin pertama terasa berat, tapi kalau terbiasa Insya Allah mudah, dan kita terasa ada yang kurang jika tak membacanya.


Gerakan ODOJ ini dimulai dari sebuah grup yang anggotanya 30 orang. ODOJ ini adalah komunitas sosial media, Whatsapp atau BBM. Setiap orang membaca satu juz setiap harinya. Setiap harinya ada PJ yang bertanggung jawab untuk mengingatkan, update data dan juga memonitor semua anggota. Kalau ada diantara anggota yang belum bisa menamatkan 1 juz, maka akan dilelang juz yang bersangkutan. Misalnya ada salah satu anggota grup yang belum bisa menamatkan juz 12, maka juz itu akan dikeroyok. Bisa jadi si A ngambil lembar 1-5, dan si B untuk lembar 6-10. Gak sedikit yang berlomba-lomba ingin mendapatkan bonus ini. Hingga setiap harinya satu grup itu akan khatam Al Qur’an. Dan diakhir waktu membaca doa khatam Al Qur’an. Biasanya yang membacakan doa khatam adalah yang sedang dapat giliran juz 30.

Gimana kondisinya kalau wanita yang sedang berhalangan atau mengalami masa nifasnya? Nah, ada yang bisa dilakuin. Pertama, sebagian orang  ada yang berkeyakinan boleh membaca walau dalam keadaan haid akan membaca Al Qur’an. Asal tidak mengotori Mushaf yang dipake. Biasanya ini dilakuin oleh para hafizah-hafizah yang setiap harinya megang Mushaf untuk menghafal dan Murajaah hafalannya. Pilihan kedua, kamu bisa Tasmi. Tasmi ini adalah mendengarkan Murotal Al Qur’an. Juz yang sedang yang dibaca tentunya. Misalnya, hari ini kamu kudu baca juz 10, nah kamu bisa mulai mendengarkan QS Al Anfal sampai dengan QS Attaubah. Dan yang ketiga ada Tarjim. Tarjim ini sendiri apa? Tarjim adalah membaca terjemahan juz bagian kamu. Contohnya, hari ini kamu bertanggungjawab untuk Juz 30, kamu bisa membaca artinya atau terjemahan Juz 30 ini. Mulai dari QS An Naba sampe dengan QS An Nas.


Gerakan ODOJ ini dilakukan bukan sebagai pamer kemampuan tilawah atau pamer amalan ya teman. ODOJ ini sarana buat kita saling mengingatkan. Karena aku yakin dan percaya, banyak diantara kita yang lupa membaca Al Qur’an setiap harinya. Bahkan mungkin ada yang sudah lama sekali tidak menyentuhnya. Sayang sekali, padahal pahalanya bukan tiap surat atau ayat, setiap huruf malah.  Gerakan ODOJ ini dilakukan untuk membangkitkan kembali  passion kita untuk membaca Al Qur’an.  ODOJ ini digerakkan agar kita kembali mencintai Al Qur’an, bergairah membacanya Al Qur’an, dekat dengan Al Qur’an, bahkan sedikit demi sedikit mampu menghafalnya. Dan, Alhamdulillah saya sudah tergabung di ODOJ 1384. Maklum kita semua sama-sama dalam tahap perbaikan diri. Selalu berusaha untuk mencoba lebih baik. 

Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak? 

 

KEEP HAMASAH!! KEEP ISTIQAMAH :)
Read More

Kamis, 01 Mei 2014

Semu


Keraguan..
Bimbang..
Antara ketidakpastian
Kerap sekali menjadi sapaan gurih pagi hariku
Merayuku dalam segenap keheninganku
Sampai aku terenyuh, terhanyut nan kelabu

Waktu terus berlarian..
Bagai sampan, gelora bentangan samudera
Melintasi hamparan biru gelora jiwa
Tapi tetap saja..
Selalu saja..
Terombang-ambing..
Bahkan layar sampanku robek, terkoyak
Dimana letak haluan, dimana harus berlabuh?
Sedikitku mulai berani melawan
Sampanku mulai bergelora
Maju melawan arus yang kian menerjang
Alhasil,

Terdampar di pusaran derasnya gelombang
Aku mulai memadam, menyerah, bahkan mulai kalah
Terluntah aku, hatiku tertatih
Jari-jari tangan mulai merapat
Menengadahkan kepala
Menitik segenap doa
Pada Sang Penguasa Raya
Akan isak meremas persendian raga
Masa bergulir, melahirkan remang-remang asa
Berkejaran rasa, menjelma menjadi alunan sesak
Tanpa harapan, tiada tujuan
Melangkah dalam kehampaan
Walau hanya, semu..
 
  Fibrina Audia Safitri-

Read More

Rabu, 04 Desember 2013

Hanya Permaisuri

Setiap malam gadis itu tetap menjalankan rutinitasnya, rutinitas yang aneh. Telunjuk kanannya mulai melakukan aktivitasnya, menghitung bintang yang bersembulan dari carikan awan kelabu sampai hitungannya berjumlah genap. Hatinya pun terbesit akan memori masa lalunya jika angka ganjil yang muncul dalam hitungannya, hatinya tertegun melihat pilu yang menyelubutinya. Yang ia pikir laki-laki itu adalah sepercik kebahagian ternyata fatamorgana. Hal yang paling ia benci nomer dua setelah angka ganjil, waktu, dengannya kebahagiaan dibawa pergi begitu saja dengan sangat cepat.

Kedatangan yang tak disangka, detik per detik pun terlampaui hingga hanya satu nama yang terselip dalam ruangan hati kecilnya, sebuah nama yang tak disayangkan keberadaanya. Sosok yang selalu ia nikmati dari berbagai sisi. Kehadirannya pun mulai menyentuh keheningan menepiskan kepedihan. Laki-laki itu pun membiusnya akan muslihatnya, membuat gadis itu semakin gila. Gadis yang selalu laki-laki panggil dengan sebutan Dokter itu, menemani dan untuk merawatnya setiap saat seperti dokter. Begitupun si gadis memanggilnya dengan sebutan Profesor, karena laki-laki yang mimpinya untuk melanjutkan pendidikan denganbeasiswa ke luar negeri. 

Dalam keadaan mabuk asmara, gadis itu akan merasa lahir untuk seseorang yang ia cinta. Dalam keadaan terinspirasi, ia mencoba untuk berkarya dan mencipta. Menjelma menjadi seorang gadis dengan impiannya. Kedekatannya dengan laki-laki yang selalu ia sebut profesor itu, menjadikan tonggak gelora semangat. Selalu rindu suara lirih yang meneduhkan segala suasana, menjadi sapaan gurih di pagi hari, dan menjadi tawa damai sebelum tidur malamnya.

Seperti biasa, bahkan bisa dikatakan hampir sering, ketika cahaya bulan mulai temaram, di tengah taman kota. Mereka sering pergi di tempat itu, membaringkan tubuh di rerumputan hijau halus yang memenuhi taman kota. Tiba-tiba terdengar dari telinga gadis itu dibarengi latar desis angin malam.
“Aku senang malam ini.” Spontan laki-laki itu.
“Maksud kamu?”Sahutnya gadis itu dengan spontan.
“Lihatlah ke langit, mereka berjumlah genap. Mereka sudah menemukan pasangan mereka.”Kata laki-laki itu dibarengi telunjuk tangan kanannya mengarah pada langit.
“Suka dengan bintang?”Tanya gadis dengan spontan.
“Bintang dengan jumlah genap lebih tepatnya.”Jelas laki-laki itu dengan senyuman tipis sejuk dipandang.
“Ganjil?” Tanya gadis itu dengan heran.
“Kamu dapat melihat satu bintang di selatan, cahayanya pun redup. Lihat yang sebelah timur, yang berpasangan lebih terang cahayanya.” Jelas laki-laki itu dengan nada lirih penuh kelembutan.
“Lalu?”Sahut gadis itu dengan spontan.
“Kita bisa seperti bintang yang di sebelah timur itu, jika bersama.”
Terang laki-laki itu lagi sedikit meyakinkan.

Kata laki-laki itu tentang sebuah bintang yang berpasangan selalu membuat gadis itu terkagum, dan perasaannya pun semakin berambisi. “Kita bisa seperti bintang yang di sebelah timur, jika bersama.” Kata yang selalu tepat berada digenggamannya tanpa mau ia lepas. Membuatnya selalu terngiang dengan senyuman legit tipis bila diingat. Ditambah lagi karena kegiatan yang sudah hampir sering mereka lakukan di taman kota akan berlanjut ke jarang bahkan hanya jika ada waktu, membuatnya menggenggam dengan sangat erat. Laki-laki yang selalu ia panggil dengan sebutan profesor itu akan mengarungi masa depannya di salah satu universitas ternama di luar kota. Hati gadis itu pun merasa berat, walau  jarak sudah berhasil memisahkan mereka, tetapi mereka pun tak merasa berjauhan. Mereka tetap dapat melihat bintang dan bulan yang sama di atas sana. Walau hanya ponsel sebagai teman baik perantara kata kerinduan hati yang rancu. Yang berhasil menepiskan segala pilu.
Satu pesan yang selalu menggetarkan handphone gadis itu , dibukanya..
“Aku memang manusia
biasa, yang tak sempurna dan kadang salah, namun di hatiku hanya satu, cinta untukmu luar biasa.”
Hanya potongan lirik “Manusia Biasa” lagu dari Yovie n Nuno seketika menjadi lagu wajib sebagai pengawal topik pembicaraannya dengan laki-laki itu lewat ponsel.
“Bintangnya genap ya?” Tanya laki-laki itu selalu pada perbincangannnya lewat smsketika bintang dan bulan berhasil menggantikan sang surya.
“Lagi lihat bintang juga ya?” Balas gadis itu.
“Tanpa aku jawab, pertanyaanku paling awal pun bisa dijadikan jawaban.”Balas laki-laki itu lagi.
“Apa kabar Profesor?”
“Sama sepertimu, kalau kabarmu baik pasti aku baik.”
“I miss You..”
“Miss You too..”

****
Tetapi, perempuan itu datang lagi, mengaduhkan semua perasaannya kepada dunia. Perempuan itu adalah sosok novelis ternama sekarang, karyanya sudah mulai mengindonesia. Ajang-ajang lomba cerpen tak pernah terlewatkan, bahkan untuk membuat sebuah novelet pun hal yang otaknya tak perlu diputar-putar. Pandai memainkan kata-kata, bahkan untuk membaca sebuah puisi, orang-orang juga selalu mengikuti ekspresinya. Dikala menangis, orang lain akan lebih menangis. Dia orang sangat hebat dan luar biasa. Kariernya sebagai dokter pun sudah berada di pelupuk mata, bagaimana tidak? Semester pertama di jurusan kedokteran pun sudah terlewat, artinya dia sudah dinyatakan sebagai mahasiswa jurusan kedokteran. Betapa sempurna perempuan itu, wajahnya pun jauh jika dibanding dengan gadis dengan panggilan Dokter, cuma sekedar  panggilan yang diberikan laki-laki itu. Membuat gadis yang selalu laki-laki panggil dengan sebutan Dokter itu hampir kalah dan menyerah.
Satu pesan menggetarkan handphone gadis  itu..
“Hari ini aku akan pulang, aku sudah rindu denganmu, Dokter. Tunggu aku ya.”
“Hati-hati Profesor, aku menunggumu di sini.”

  ****
Seperti biasa, Sabtu malam itu, gadis itu sudah berdiri lebih dari setengah jam  tepat di tengah taman kota. Dibiarkan angin malam menerpa tubuhnya yang sudah panas mengingat kejadian yang sudah lama ia rindukan dengan Profesor.Tiba-tiba terdengar olehnya decak langkah demi langkah menghampirinya dari belakang. Nadi gadis itu menggetar cepat.
“Sudah nunggu lama ya, bintangnya genap kan?” Spontan suara laki-laki mengagetkannya dari belakang.
“Kamu kayak hantu.”  Spontan gadis itu dengan nada kaget.
“Kenapa bintangnya selalu genap?”
Tanya gadis itu dengan nada polos  dengan wajah keheranan.
“Mungkin karena ada kita di sini.”
Jawab laki-laki itu dengan santai.
“Bintang nggak punya mata.” 
Balas gadis dengan spontan dan santai.
“Tetapi mereka selalu tau  kapan mereka harus ada.” Jelas laki-laki yang selalu gadis itu sebut dengan Profesor itu.
Tiba-tiba satu pesan menggetarkan handphone laki-laki itu memecahkan perbincangan fantastis mereka.
“Bagaimana kabarmu ci, aku sangat rindu denganmu. Aku sudah berhasil mewujudkan preferensiku, karyaku sudah banyak dimuat di majalah dan sekarang aku sudah masuk di jurusan kedokteran. Aku ingat, kita dulu sosok yang saling mendukung satu sama lain. Bagaimana denganmu ahli fisika?”
Wajah laki-laki itu tiba-tiba terlihat sayu setelah membaca pesan dari perempuan yang pernah singgah di hatinya itu, dengan sebutan “ci” yang berarti “cinta”.

“Kenapa? Siapa yang sms?”
Tanya gadis itu dengan sebutan dokter itu.
“Calon seorang dokter.”
Jawabnya laki-laki singkat.
“Kamu kenapa? Sakit?Jangan sakit ya biar semangat nemenin aku.” Tanyanya dengan senyum tipis sedikit menghibur walau dalam hatinya pun berbicara bahwa pengirim sms itu adalah mantan laki-laki itu.
“Aku selalu semangat menemanimu, kalau aku sakit aku sudah mempunyai dokter.”Jelas laki-laki itu sedikit meyakinkan.
“Aku bukan seorang dokter, dia dokter, dia lebih baik dari aku. Perempuan yang cantik, baik, dan berbakat, ditambah sudah hampir 3 tahun kalian bersama.”Terang gadis itu dengan wajahnya yang sudah mulai pucat.
“Aku benci topik ini, bisakah kita berpindah topik atau diam dan mengakhirinya?”
Laki-laki itu mencoba meyakinkan.
“Perasaannya masih sama seperti dulu, sebelum kalian berpisah. Sudah masuk bulan ke tujuh kalian berpisah, tapi dia masih mengharapkanmu.”Jelas gadis itu lagi.
“Aku ingin kamu yang menemani aku.”
Laki-laki itu mencoba meyakinkan lagi.
“Hanya yang pantas sebagai permaisuri yang layak untuk seorang pangeran, aku bukan seperti dia.”

Gadis itu hanya terdiam, perasaan yang mulai menggerayangi hatinya ingin dilepas begitu saja. Perasaan yang sama sekali tak diinginkan sebelumnya. Elakan-elakan pun selalu muncul, karena mungkin sesama perempuan. Gadis itu hanya berpikir, “Betapa sakitnya jika tiga tahun bersama merasakan kebahagiaan, di mana orang-orang selalu ikut merasakan bahagia melihat kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang nyata, sempurna membuat orang-orang mengikutinya.Bahkan mendengar berita mereka yang telah putus, orang-orang pun menyayangkan dan ikut prihatin. Lalu aku siapa? Lagian mana pantas aku bersanding dengan laki-laki yang sama luar biasanya dengan perempuan itu? "Hanya yang pantas menjadi permaisuri yang layak untuk sang pangeran. Dan itu bukan aku.”

Sejak sabtu malam itu, sikap laki-laki  yang mulai dingin dengan gadis yang selalu ia sebut Dokter itu. Gadis itu selalu bertanya-tanya, “Mengapa dia berubah padaku?”, gadis yang selalu menyembunyikan perasaannya, menutupinya rapat dengan elakan-elakan dan berusaha menegaskan perasaannya untuk tidak jatuh semakin parah. Karena kedekatannya dengan laki-laki selama ini yang selalu ia bungkam rapat, takut akan orang-orang tau. Bahkan untuk menyalahkannya, menjadi parasit mereka untuk bersatu untuk menggenapkan hubungan tiga tahun dan berlanjut tahun ke tahun.
Mungkin mereka adalah pangeran dan permaisuri yang diuji. Mereka adalah sosok yang sangat luar biasa. Apalagi perempuan itu, dengan perasaan yang kacau balau selama tujuh bulan ini karena hubungannya yang hampir tiga tahun kandas begitu saja dengan laki-laki itu tetapi ia selalu mencurahkan dalam sebuah karya-karya yang selalu dinikmati banyak kalangan. 

Mendengar kedekatan laki-laki yang selalu ia sebut “Profesor”dengan seorang perempuan yang selalu memanggil laki-laki itu dengan sebutan “ci”membuat gadis itu pun tercengang, dan pertanyaannya selama ini pun terjawab. Lamunan bisu ditambah senyuman tipis remang-remang selalu ia lontarkan dalam keheningannya. Meski hatinya tersayat kaku teringat akan kata sosok pahlawan tentang bintang berjumlah genap akan memancarkan cahaya lebih terang, ia tetap mencoba mengepakkan sayap-sayapnya yang telah patah, menganggap tujuh bulan ini tertidur dan bermimpi. Bermimpi bertemu dengan seorang pangeran.
Awan yang mulai berarak. Entah apa yang mengerek kaki-kaki gadis itu untuk membawa tubuhnya pergi taman kota. Ia rebahkan tubuhnya pada rerumputan hijau halus yang membentang. Angin sepoi-sepoi pun menerpa tubunya, menengadahkan kepalanya, matanya pun lurus tak berpindah melihat sepasang bintang yang bersinar terang di langit malam itu, air mata yang mulai menyerbu perlahan pipinya dibarengi dengan senyuman tipis remang-remang. Dengan semburat bintang-bintang di malam itu, di tengah taman kota, hatinya terasa tercambuk mengingat kejadian itu. 
Gadis itu pun hanya dapat menulisnya pada lembar kelabu diarinya..
Di sini aku bukan tokoh utama
Mereka adalah tokoh utama pada kisah mereka
Permaisuri dan pangeran yang sedang di uji
Mereka kembali...
Banyak orang yang nggak ngerti
Lalu terluka, akhirnya menyalahkan
Aku sadar akan diri
Aku bukan seorang permaisuri
Lantas untuk apa aku menyalahkan diri?
Perasaan yang mulai berambisi
Mencintai tanpa henti
Hanya bintang yang menjadi saksi
Dulu kita di sini
Mungkin hanya fiksi
Bahkan ini mimpi
Atau mungkin perasaan di uji
Tetapi memang benar “hanya permaisuri yang pantas bersanding dengan seorang pangeran.”

                                                                                                            By: Fibrina Audia Safitri




Read More

Jangan lupa kasih makan ya kak :)

© SKETCHES OF MINE, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena